Bangkrutnya Industri Rokok

26 Nov 2014 Mukti Fajar Artikel

Tulisan ini mungkin tidak menarik, diantara gegap gempitanya kampanye anti rokok. Namun kita bisa saksikan fakta fakta bahwa Industri rokok yang menjadi andalan Indonesia menunjukan kebangkrutan yang signifikan. Dahulunya ada  sekitar 3000an  pabrik rokok besar dan kecil, sekarang tinggal 1900an. 1100 diantaranya ada di Jawa Timur, sekarang hanya bertahan 563 pabrik. PT HM Sampoerna Tbk dan PT Bentoel International Tbk sebagai tigabesar pabrik rokok di Indonesia telah mem PHK ribuan karyawannya.

Banyak hal yang bisa dijadikan sebab mengapa industry rokok terjun bebas. Dari persoalan naiknya tarif pita cukai , persyaratan pabrik yang ribet , hingga masalah issu kesehatan dan ke“haram”an konsumsi rokok.

Banyak peraturan perundangan ditingkat lokal dan nasional  dibuat untuk membatasi orang merokok. Selain itu ada perjanjian internasional Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)   atau konvensi minternasional untuk pengawasan tembakau,  yang telah ditanda tangani oleh 172 negara . Berbagai atiran tersebut  terasa mendesak secara politis untuk adanya pembatasan  industri rokok.  Tetapi disisi lain , permintaan supplai rokok tidak menunjukan statistic yang menurun. Lalu siapa yang diuntungkan dalam krisis tersebut?.

Dalam prespektif perdagangan dunia , fakta fakta tersebut akan dianalisis.

Pertama, bahwa semangat globalisasi ekonomi yang mendasarkan pada liberalisasi perdagangan telah menunjukan kebijakan yang berbeda pada industri rokok. Untuk produk selain rokok, semua Negara diminta untuk membuka pintu lebar lebar arus kelaur masuk perdagangan. Bahkan dengan penurunan dan penghilangan tarif.  Dalam industri rokok justru dilakukan pembatasan dan kenaikan tarif. Tentu saja hal ini mengakibatkan tidak efisiensinya produksi rokok. Pembatasan dalam hal ekport juga menjadi kendala.  Persoalan ini telah menjadi sengketa antara Indonesia melawan amerika di Organisasi Perdaganagn Dunia (WTO ) Sengketa yang yg muncul akibat Amerika membatasi perdagangan rokok kretek Indonesia yang di eksport ke negeri Paman Sam tersebut. Walaupun gugatan tersebut di menangkan Indonesia 2 kali pada tahun 2012 dan 2013 ,  namun Amerika tetap tidak mau mencabut kebijakan pembatasan masuknya rokok Indonesia . Mengapa ? karena eksport rokok kretek kita lebih dari 450 juta dolar pertahun , hal ini tentunya menjadi ancaman industri rokok Amerika,

Kedua,   Melalui perjanjian FCTC  , World Health Organization (WHO) mengusung isu kesehatan untuk membatasi Industri rokok. Kampanye besar besaran anti rokok didukung penuh oleh lembaga-lembaga Internasional ,seperti Framework Covention Alliance (FCA) yaitu persatuan LSM LSM yang dimotori para ahli kesehatan Amerika   dan juga oleh  Bloomberg Initiatives yang didirikan oleh mantan walikota New York Michael Bloomberg. (Hammond dan Assunta: 2003).  Tulisan ini tidak memperdebatkan persoalan bahaya kesehatan merokok, tetapi menunjukan fakta bahwa  ada perubahan perilaku perokok untuk mengkonsumi rokok dengan kadar tar yang rendah seperti rokok putih, sehingga rokok kretek Indonesia mulai ditinggalkan. Permintaan rokok putih menjadi naik , dan kita tahu siapa yang menjual rokok putih.  Hari ini bisa dilihat bahwa Perusahan rokok terbesar di dunia  adalah Britis American Tobacco (BAT) adalah perusahaan patungan milik Inggris dan Amerika. BAT ini pula yang telah mengambil alih (takeover) perusahaan rokok  PT Bentoel International milik Indonesia . Peringkat selanjutnya  adalah perusahaan rokok Amerika  : Philip Morris International , yang telah mengakuisisi PT HM Sampoerna dengan membeli sahamnya hingga 97 %. Jadi rokok Djie Sam Soe yang legendaris dari Indonesia itu telah menjadi milik Amerika.  Pertanyaannya adalah : “ …mengapa mereka kampanye besar besaran anti rokok hingga industry  rokok kita kolaps, tetapi perusahaan rokok asing yang kemudian menguasai di Indonesia ? “.

Dengan logika kesehatan yang sama, “ ..mengapa Amerika menolak Perjanjian Kyoto (Protokol Kyoto) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh asap cerobong pabrik, walaupun sangat berbahaya bagi kesehatan  dan juga telah  merubah alam dan cuaca diseluruh muka bumi ? “. Sebab.. jika Amerika menyetujui , maka akan ada penurunan Industri bisnisnya.

Sepertinya persoalan rokok tidak saja masalah kesehatan, tetapi juga perang bisnis. Semoga kita sadar.

Jogjakarta,  27  November 2014

Dr. Mukti Fajar ND ( Dosen Hukum Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta )