ZAKAT DAN TEORI KEADILAN

16 May 2013 Mukti Fajar Artikel

Scenario penciptaan dunia, telah menjadikan manusia dalam keadaan yang berbeda beda. Hal ini adalah sunnatullah,  seperti yang ditegaskan dalam Surah Al An’am 165  : “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu“.

Dalam realitas kehidupan, kita dapat saksikan, ada anak terlahir dalam keluarga kaya raya, disuatu tempat yang makmur dan subur serta tinggi perdabannya. Memudahkan baginya mendapatkan rejeki, karena cerdas, trampil, dan luas pergaulannya. Di sisi lain ada manusia tumbuh dalam keterbatasan. Dilahirkan dalam keluarga miskin, disuatu wilayah yang gersang , jauh dari peradaban.  Akhirnya  kesulitan hidup itu terus berlanjut, karena tidak berbekal ilmu, dan tidak punya koneksi.

Tetapi harus diyakini bahwa kondisi ini bukan untuk menjadikan sebagian manusia berhak menindas sebagian yang lain. Si kaya melecehkan  si miskin, si pintar membodohi si pandir atau si kuasa yang mengekspolitasi si tuna kuasa.  Justru sebaliknya, bahwa perbedaan tersebut memberikan kewajiban bagi yang kuat untuk melindungi yang lemah.

John Rawls dalam analisis Teori Keadilan mengatakan bahwa ; anugerah alamiah yang didapat seseorang, bukanlah milik pribadinya semata, tetapi harus digunakan untuk memberikan manfaat sebanyak mungkin bagi pihak yang lemah. Ternyata,  doktrin Rawls dari hasil analisis keilmuan tidak beda dengan yang telah difirmankan Allah : “dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia hak tertentu buat orang yang meminta-minta dan orang yang tidak bernasib baik.” (Q.S. Al Ma’arij, 24-25).

Islam telah mengatur melalui zakat,infaq, shodaqoh. Namun kenapa di Indonesia perihal ini tidak berjalan baik. Sehingga masih terlihat kesenjangan di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini?.

Secara sosiologis, hari ini masyarakat telah dibelenggu budaya  konsumtif. Menumpuk harta secara rakus dan membelanjakan sebanyak banyaknya adalah bentuk kebanggaan dan kebahagian manusia modern. seseorang akan merasa teraktulisasikan siapa dirinya dengan dasar apa yang dimilikinya. Semakin kaya semakin tinggi derajad sosialnya. Bahkan menyumbang orang lain adalah perbuatan sia-sia, sebab tetap mereka perlukan si miskin agar tetap terlihat kaya. Darwinisme sosial sering menjadi pembenar : “orang kaya adalah pemenang dan kaum melarat adalah pihak yang kalah dalam seleksi alam. Untuk itu tidak perlu ditangisi”

Dari prespektif religius, bisa dipastikan masih banyak orang Indonesai yang kurang beriman atau  tidak meyakini firman ini dengan sungguh-sungguh. Padahal lebih dari 80an ayat dalam Al Quran yang mewajibkan setiap muslim untuk membayar zakat. Selain itu, tidak adanya pemahaman bahwa manusia sebagai khalifatul fil ard  diberi kewajiban untuk mengatur bumi yang dari sono nya memang tidak seimbang agar tercipta kehidupan dunia yang harmonis. Salah satunya dengan saling berbagi zakat atas nikmat yang didapat.

Secara yuridis, di Indonesia belum ada penegakan hukum dengan memberi sanksi bagi yang tidak membayar zakat. Ini terjadi karena pandangan bahwa secara politis kita bukan Negara Islam, sehingga tidak perlu penegakan hukum dilakukan oleh. Padahal zaman pemerintahan Abu Bakar ra,   belum ada konsepsi mengenai Negara Islam atau Negara sekuler, tetapi beliau dengan tegas memerangi orang yang tidak membayar zakat.  Karena  tidak membayar zakat dianggap mencuri hak orang lain. Dan mencuri,  di dunia manapun adalah perbuatan yang harus dihukum.

Jogjakarta, 12 Agustus 2012

 

Dr. Mukti Fajar ND

Dosen Hukum Ekonomi. FH Univ. Muhammadiyah Yogyakarta