Penipu (an) yang Cantik

21 Apr 2013 Mukti Fajar Artikel

Siapa yang tidak senang ?.  Jika kita sebagai nasabah bank dilayani oleh perempuan cantik nan molek, seperti halnya Malinda Dee (MD). Wanita dengan jabatan Senior Relationship Manager CitiBank dengan piawai memberikan layanan berkelas.  Ia akan menjamu kliennya di restoran kelas satu atau sebuah lounge di hotel berbintang lima.

Dengan pengalaman 20 tahun, menjadikan MD sangat menguasai komunikasi yang menjadikan setiap nasabah merasa seperti raja.  Penampilannya  yang memikat dan berkelas, akan membuat setiap nasabah jatuh hati dan percaya sepenuhnya. Hingga dengan rela memberikan kepercayaan kepada Melinda untuk mengurus dana dan segala transaksi yang bernilai milyaran. MD memang mempunyai nasabah kelas kakap.  Dari  orang-orang maupun petinggi perusahaan, yang memerlukan bantuan untuk memperlancar bisnis dan transaksi keuangan mereka. Kepercayaan inilah yang menjadi peluang MD melakukan penipuan terhadap kliennya  secara mulus dan cantik.

Modus yang digunakan adalah dengan melakukan transaksi fiktif dari rekening nasabah ke rekening yang disiapkan MD. Ada yang berupa rekening atas nama orang maupun atas mana perusahaan.  Dan MD berhasil mengalihkan dana sebesar 17 Milyar (jumlah sementara yang terungkap).

Kalau melihat tampilan dan kisahnya, tentu bukan kesalahan  nasabah untuk mempercayai Melinda. Anda atau saya mungkin juga akan terlena. Bahkan dengan sengaja percaya dengan harapan selalu mendapat layanan ekslusif  Melinda. Ya gak seeh.???

Tapi petualangan si cantik ini segera terungkap. Kini MD ditahan di Bareskrim Polri dan sedang dilakukan penyidikan. MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang. Sementara pihak Citibank menyatakan akan mengganti seluruh kerugian nasabah untuk menjaga kepercayaan publik.

Namun persoalannya adalah : Bagaimana perlindungan hukum bagi nasabah yang telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pihak bank, untuk mengelola keuangannya ?. Hal ini perlu di analisis, karena selain kasus MD masih banyak kasus-kasus yang merugikan nasabah bank. Kajian  tersebut diantaranya.

Pertama :  Hubungan antara bank dan nasabah didasarkan atas rasa percaya (trust). Sebab bagaimana mungkin seorang menitipkan hartanya kepada pihak lain yang tidak mempunyai kredibilitas. Walaupun secara normatif nasabah bank cukup mendapat perlindungan.  Baik dari sisi  hukum kontrak,  peraturan perbankan, perlindungan konsumen maupun peraturan mengenai lembaga penjamin simpanan. Tetapi pada prakteknya, posisi nasabah cenderung lemah ketika berhadapan dengan Perusahaan Perbankan. Dapat dijadikan contoh pada kasus Bank Century. Ketika Bank tersebut mengalami kolap, banyak nasabah yang belum mendapatkan ganti atas dana simpanan mereka. Dan ketika mencoba  menuntut haknya, maka mereka hanya bertemu dengan gedung kantor banknya saja. Nasabah tidak bisa bertemu langsung dengan pengurus bank yang berwenang, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal .  Selain itu,  secara hukum,  bentuk Perusahaan bank adalah Perseroann Terbatas (PT). Konstruksi hukum ini menempatkan jajaran pengurus tidak bisa dimintai pertanggung jawabannya secara pribadi. Semua menjadi tanggung jawab Badan Hukum PT .  Kalau nasabah mengambil atau merusak asset bank, justru dapat diancam hukuman pidana. Artinya : Nasabah ada di jalan buntu.

Kedua: Pada posisi yang sebaliknya.  Ketika nasabah sebagai debitur melakukan pinjaman pada pihak bank.  Pada kasus ini  ada cara-cara yang tidak etis dilakukan oleh bank.  Namun hal  ini tidak menjadi masalah bagi nasabah,  karena pada saat itu mereka  sangat membutuhkan dana. Pihak bank terkenal sangat cerdik menawarkan berbagai kemudahan fasilitas kepada nasabah calon debitur. Tetapi setelah pinjaman diterima nasabah, mereka  baru sadar bahwa ada klausula-klausula kontrak kredit yang menempatkannya pada keadaan tidak berdaya. Praktek-praktek cheating (curang) yang selama ini sering dilakukan oleh bank misalnya:

(1) kontrak kredit dibuat dalam akta yang sudah baku dan tidak bisa dilakukuan negosiasi. Akta tersebut juga ditulis dengan huruf yang kecil dan hampir tidak terbaca. Sehingga hampir semua nasabah tidak memahami isi kontrak, yang sesungguhnya cukup merugikan kepentingannya. Jika mereka terlambat membayar angsuran, maka serta merta jaminan akan disita dengan paksa. Kalau perlu mendatangkan debt-collector dengan wajah yang menyeramkan. Itu semua dilakukan karena  nasabah secara tidak sadar (di dalam akta kredit yang tidak terbaca tadi) memberikan kuasa kepada pihak bank untuk mengambil atau menjual jaminan secara sepihak.;  (2) Bank pandai merayu nasabah dengan cara yang cantik dan memikat. Seperti menawarkan bunga yang rendah. Padahal diujung kalimat tersebut terdapat tanda bintang (*)  dengan keterangan: “bunga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan”. Dan perubahan tersebut hampir selalu naik dari bunga yang ditawarkan diawal. (3) Kadang bank menawarkan fasilitas pinjaman dengan “bunga menurun”. Persepsi yang dipahami oleh nasabah bahwa angsuran akan menurun. Namun yang terjadi bahwa jumlah total setiap angsuran pada tahun-tahun awal adalah untuk membayar bunganya saja.  Sehingga ketika akan dilunasi di tengah masa kredit,  jumlah pinjaman pokok masih sangat besar. Hal ini tidak pernah diberitahukan kepada nasabah di awal pada saat penandatanganan kontrak.

Secara hukum hal tersebut di atas berlawanan dengan prinsip itikad baik dalam kontrak dan melanggar “hak atas informasi yang jelas” dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Namun kita tidak perlu berharap telalu banyak dari pemerintah.  Sebab otoritas jasa keuangan telah dilepas pada mekanisme pasar.

Pada akhirnya kita tahu , ternyata  tidak hanya Malinda Dee yang berparas cantik melakukan penipuan, tetapi pihak bank secara diam-diam juga telah melakukan kecurangan dengan cara yang “cantik”.  Hingga tanpa disadari kita terlena dan masuk perangkap. Selanjutnya nasabah harus dengan iklas menerima nasibnya yang tidak pernah beruntung ketika berhadapan dengan institusi bank.

Pertanyaan akhir adalah:  “mengapa para nasabah tidak bersatu melawan kecurangan praktek perbankan?” .. Maybe ….Someday