So What Mr. Obama ?

21 Mar 2013 Mukti Fajar Artikel

Lawatan singkat Presiden Amerika Serikat Barrack Hussein Obama, di Indonesia disambut meriah. Kunjungan “pulang kampung” Obama yang pernah tinggal di Indonesia selama 4 tahun banyak diberi komentar positif oleh para pengamat. Ditambah kunjungan ke Masjid Istiqlal untuk memulihkan  citra  dan kehebatan orasi Obama yang “menyentuh” emosi berbagai kalangan pada Kuliah umum di Universitas Indonesia, diharapkan  mampu mempererat hubungan Indonesia – AS dimasa depan. Juga sedikit menutup dan melupakan  “dosa-dosa”  AS selama ini. Itulah kehandalan sebuah repertoar pertunjukan politik  AS untuk melakukan pendekatan yang memikat Negara berkembang seperti Indonesia.

Tapi adegan  sesungguhnya adalah pembicaraan tertutup dengan Presiden SBY di Istana Negara. Ada 5 isu penting yang menjadi topic diplomasi yaitu : (1). Perdagangan dan investasi; (2). Kesepakatan di bidang energi, terutama clean energy; (3)climate change, pengelolaan hutan, dan zat emisi ; (4). Kesepakatan di bidang pendidikan ; (5). Kerja sama di bidang counter terorism . Selain itu masih ada isu tambahan seperti masa depan hubungan ASEAN-AS, KTT APEC di Yohama dan KTT G 20 di Seoul Korea yang waktunya berurutan.

Namun itu semua masih menyisakan pertanyaan :  apakah pesona Obama yang flamboyan dalam diplomasi dapat terwujud secara nyata ? Apakah Indonesia benar-benar akan mendapatkan keuntungan (yang wajar) dari hubungan bilateral tersebut ?.

Untuk isu investasi, bidang energy dan climate change sepertinya saling terkait.    Perihal tersebut harus dicermati dari prespektif bilateral maupun multilateral yang terus berkembang dinamis .

Pertama keinginan AS untuk menjadi  peringkat pertama sebagai investor dan ekportir ke Indonesia, yang pada saat ini ada pada urutan ke 3 setelah China dan Jepang, tidak semudah yang diinginkan. Kondisi krisis ekonomi di AS sendiri masih belum pulih sejak 2008. Banyak pelaku bisnis AS yang mulai mengalihkan usahanya ke Asia yang lebih menjanjikan (emerging market). Satu sisi, ini adalah kesempatan Indonesia untuk memanfaatkan. Namun kondisi alam, carut marut politik dan ketidak pastian hukum menjadi hambatan untuk tawaran Investasi di Indonesia. Oleh karena itu, kita  tidak perlu berharap banyak.

Kedua,  Dominasi Amerika dalam forum ekonomi Internasional mulai rapuh. Tapi masih seringkali “kekeh” dengan argumentasi politiknya, seperti pengurangan gas emisi untuk mengatsi persoalan Climate Change dalam Perjanjian Internasional “Protokol Kyoto” belum ditaati AS. Ini akan menyulitkan Negara-negara lain untuk merumuskan perjanjian multilateral. Mr. Obama mungkin saja bisa kompromi , tetapi para “yahudi bisnis” di Amerika tidak akan semudah itu menuruti. Lalu .. apa yang bias diberikan AS dalam perjanjian bilateral dengan Indonesia untuk isu Climate Change? Sekali lagi … susah untuk diharapkan.

Ketiga : KTT G 20 yang ber Tema “ berbagi untuk mengatasi krisis” ( Shared growth beyond crisis ) sudah banyak di kometari pesimis oleh peserta. Hal ini dianggap “tidak adil” bagi Negara yang sedang tumbuh sehat. AS melakukan propaganda tersebut , karena kondisi ekonomi domestiknya sedang reyot, lalu minta berbagi dengan yang lain. Padahal AS jarang  berbagi, selain mengajak kompetisi. Selain itu system pasar bebas sudah terlanjur diterapkan hampir semua Negara di Asia Pacifik. Jadi aneh kalau kemudian dilakukan proteksi pasar untuk menciptakan system “berbagi”. Ini akan bertentangan dengan perjanjian dalam Forum WTO yang telah diikuti hamper 200 negara. Artinya, AS masih punya PR yang harus dikerjakan sendiri , sebelum menebar janji dengan kita.

Akhirnya perlu kita amati kemampuan  Obama memang kemudi.  Secara global .. citra flamboyant Mr Obama yang nampak lebih mudah melakukan toleransi dan komunikasi, belum mendapatkan  kepercayaan penuh dari berbagai pemimpin Negara. Politik luar negeri AS yang sering intervensi berlebihan , masih dianggap tidak nyaman untuk dijadikan “teman dekat”. Walaupun Pak Obama punya kuasa penuh, masih banyak anggota konggres yang konservatif tidak mau toleran, karena anggapan negra Adi Daya masih merasuki mereka. AS sebagai sebuah bangsa akan menjadi “orang kesepian” yang “arogan”, walaupun punya presiden yang bersahaja.

Jadi apa yang bisa kita harap dari kunjungan Mr. Obama kemarin , selain romantisme masa kecilnya di Jakarta ?  kenangan  main layangan, makan sate dan bakso ?   So What .. gitu lho .. Mr. Obama ?

Tetapi apapun keadaannya,  lebih baik  kita tetap optimis dengan kerja keras,  tanpa harus mengadalkan hidup hanya pada Amerika Serikat.

Jogjakarta, 12 November 2010

Dr Mukti Fajar ND

Kepala LP3M dan Direktur Pusat Studi Hukum dan Kesejahteraan Sosial

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta