AEC : Buntung atau Untung ?

14 Aug 2012 Mukti Fajar Artikel

Masih ingatkah , kalau tempe tahu yang kita makan mengandalkan kedelai import ? Sebuah peristiwa luka dagang yang belum terobati. Sadarkah kita , air kemasan  yang kita minum sebagian besar dimiliki oleh orang  asing ? . Padahal, airnya diambil dari mata air dibumi pertiwi, buruhnya orang Indonesia,  yang membeli juga orang Indonesia . Tetapi keuntungannya masuk ke kantong investor asing. Tahukah kita , bahwa hamparan perkebunan sawit di berbagai kepulauan Indonesia, lambat laun telah dibeli oleh perusahan negara tetangga ?. Sementara kita masing bangga bahwa minyak goreng yang kita pakai adalah hasil bumi kita sendiri. Mengertikah rakyat didaerah, bahwa kekayaan bumi kita setiap hari dikeruk  jutaan ton oleh investor asing dan dibawa keluar negeri ?. Walaupun kadang kita ribut karena kurangnya pasokan minyak, gas dan bahan tambang untuk keperluan dapur kita sendiri. Semua ini hanya samar samar terdengar oleh kita sembari menggerutu tanpa tahu sebabnya.

Alkisah, pada ASEAN Summit November 2007, telah ditanda tangani deklarasi Asean Economic Community (AEC), yang dihadiri oleh 10 pemimpin negara-negara Asean. Meraka telah bersepakat untuk membentuk Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dilaksanakan secara penuh serempak tahun 2015.  Tujuan deklarasi AEC adalah membentuk pasar tunggal dan penyatuan ekonomi bagi negara negara Asean. Segala hambatan perdagangan dan juga investasi di semua negara Asean akan dihilangkan. Tidak ada lagi bea masuk dan tarif bagi orang asing yang membuka usaha dinagara Asean. Mereka harus diberlakukan sama dengan pelaku usaha lokal. Perihal ini pula yang kemudian lahir Undang undang No 25 tahun 2007 tentang investasi yang tidak membedakan lagi antara penanam modal asing (PMA) maupun penanam modal dalam negeri (PMDN).  Pemilik warung makan Thailand boleh membuka gerainya disetiap sudut jalan, pedagang sate madura boleh “ider bakulan” di Singapura, Dagangan sembako Vietnam dapat ditemui dipasr pasr tradisional, bisnis pariwisata malaysia boleh saja membuat hotel dan paket “Tour de Bali” dengan suguhan tari kecak sambil berpromosi; Malaysia the truly Asia serta beragam aktifitas bisnis lainnya. Saling bersliweran membuka usahanya di berbagai negara Asean.  Semua ini dilakukan dengan harapan bahwa nagara-negara Asean dapat saling mencukupi kebutuhannya.

Lalu apakah ini semua akan berjalan dengan hasil yang baik untuk semua negara ? bisa iya bisa tidak.

Pertama, perjanjian ini tentunya sudah berlaku mengikat, sehinnga mau tidak  mau kita harus ikuti dan patuhi. Namun sebaiknay pelajaran dari krisi Eropa dan Amerika patut ditelaah lebih dalam. Pembentukan pasar tunggal dan penyatuan ekonomi di Eropa pada awalnya mampu mendokrak pertumbuhan ekonomi dan investasi di negara-negara anggota Uni Eropa . Tetapi awal 2011 kondisi mulai memburuk . Krisis di Yunani mulai menular ke Spanyol. Dua negara ini terancam bangkrut dan menyeret semua negara Uni Eropa dalam krisis yang berkelanjutan. Hingga saat ini belum ada pemulihan. Oleh karena itu , sebaiknya Indonesia menyiapkan fondasi ekonomi yang kuat sebelum melebur dalam sistem  ekonomi Asean. Bahan bahan kebutuhan primer semestinya tidak digantungkan pada produk asing. Artimya , AEC bisa dihadapi dengan kebijakan proteksi dan membatasi masuknya investasi asing dalam kebutuhan dasar. Jika ada upya penyatuan mata uang sebaiknya juga dihindari. Ini sangat riskan dan akan menjerat seluruh sistem ekonomi di semua negara anggota.

Kedua, Secara teoritis maupun praktis , sebuah negara dalam kompetisi pasar bebas, hanya  bisa maju dan bertahan apabila mempunyai produk unggulan yang bisa diandalkan (comparative advantage).  Pertanyaanya : apa produk unggulan kita ?  Tragedi Kedelai import perlu di stabilo tebal tebal, bahwa kita hampir tidak punya produk unggulan. Cerita anak bahwa Indonesia adalah negara agraris sebaiknya direvisi saja. Karena usang dan bophong belaka.  Laut yang luas belum bisa menempatkan kita sebagai negara penghasil ikan terbesar di Asean. Kekayan alam yang ada lebih banyak dilego mentahan dengan harga murah.  Mungkin hanya eksport TKI yang sampai hari ini terus diminati. Tapi,  tidakkah malu jika kita hanya mengeksport Tenaga Kerja untuk pekerjaan rendahan ?.

Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan yang matang agar kita bisa untung dalam kompetisi AEC. Jangan lagi memperpanjang catatan buntung kebijakan ekonomi kita, seperti sederet kisah diawal.

Perlu juga kiranya kita banyak banyak berdoa agar selamat nantinya. Tetapi apakah Tuhan masih mendengar dan mengabulkan doa dari bangsa yang pemimpinya berprestasi dalam berdusta dan korupsi…. ?  Hanya Tuhan yang mampu menjawab.