Kenapa Selalu Terlambat ?

07 Oct 2011 Mukti Fajar Artikel

Pernahkan anda mengalami keterlambatan ketika menggunakan fasilitas angkutan umum ?. Jawabnya :  hampir 100 %  kita mengalami nasib sial karena moda transpotasi yang kita gunakan terlambat berangkat maupun kedatangannya. Baik angkutan  bis, kereta, kapal maupun pesawat terbang .   Dan yang paling menjengkelkan ketika perusahaan anggutan umum tersebut,  tanpa merasa berdosa  memberi pengumuman keterlambatan tersebut  bagaikan sebuah kebiasaan yang harus diterima penumpang .  Sebaliknya jika kita yang terlambat semenit saja , tentu kita akan ditinggal, dan petugas , –juga tanpa merasa berdosa–  akan mengatakan “ maaf ini kesalahan anda sendiri” .

Peristiwa ini sudah berlangsung bertahun tahun lamanya di negeri kita. Untuk kereta api eksekutif sekalipun  misalnya : didalam tiket tertulis jam keberangkatan dan kedatangan ditempat tujuan. Berpuluh kali saya buktikan hampir tidak pernah sekalipun jam kedatangan tepat seperti yang tertulis , sekalipun keberangkatannya tepat. Pasti lebih satu jam lebih. Tak bisakah perusahaan kereta api lebih jujur menulis jam yang lebih tepat ?. Seharusnya mereka bisa hitung dengan akurat. Bagi penumpang pesawat udara lebih parah lagi. Delay keberangkatan diumumkan tanpa  alasan yang jelas  selain kata : “ maaf ada masalah teknis..pesawat belum bisa diberangkatkan ”. Ketika penumpang ribut komplain , maka jawaban petugas maskapai juga sangat klasik dan menjengkelkan : “maaf ini bukan kewenangan saya, silahkan tunggu pengumuman selanjutnya”. Lalu kita diterlantarkan begitu saja dengan hanya diberi sekotak roti. Begitu pula dengan angkutan bis AKAP. Alasan macetnya jalan atau adanya kecelakaan lalulintas adalah jawaban handal untuk menjawab keluhan penumpang. Tak beda pula dengan angkutan kapal, persoalan kelebihan muatan atau cuaca buruk selalu digunakan untuk membungkam keributan.

Tak bisakah mereka belajar untuk memperbaiki sistem yang menjadi sebab terjadinya keterlambatan ? Sebab bukannya tidak mungkin.  Dinegeri lain, keterlambatan sangat minim terjadi. Kereta bawah tanah (subway train) di Jepang atau di negeri-negeri eropa misalnya, selalu datang pada jam, menit dan detik yang sama setiap harinya. Penumpang pesawat terbang sudah mulai boarding 20 menit sebelumnya dan lepas landas sesuai jam yang tertera dalam tiket. Kalaupun terpaksa harus delay  mereka sudah diberitahu sejak awal dan penumpang dipanggil satu persatu untuk diberi pilihan penerbangan dengan pesawat lainnya. Mereka benar benar perlakukan penumpang dengan sangat hormat dan manusiawi . Karena pembeli adalah raja.

Pertanyaanya : Kenapa mereka bisa dan kita tidak pernah bisa?.  Tak tahukan mereka (perusahaan pengangkut) , bahwa penumpang punya kepentingan atau janji yang sangat penting, sehingga keterlambatan dapat menimbulkan kerugian baik materiil maupun immateriil ?.

Mungkin bisa coba kita pahami munculnya persoalan persoalan tersebut  dengan analisis berikut ini :

Pertama, bisa dipastikan bahwa perusahaan pengangkut tidak pernah melakukan studi kelayakan secara akurat. Perbandingan jumlah penumpang dengan jumlah angkutan,  jarak tempuh dan kecepatan yang memungkinkan, serta kemungkinan kemungkinan kesalahan yang sudah diperhitungkan sejak awal akan terjadi. Semua itu harus dihitung dan dihitung ulang , agar didapat data yang valid untuk menetukan jam keberangkatan dan kedatangan. Yang sering terjadi, perusahaan pengangkut hanya mencari perijinan serta legalitas usahanya saja. Untuk selanjutnya mereka hanya copy paste  (mencontoh) schedule perjalanan dari perusahaan lain.  Padahal jenis angkutan yang digunakan  dan faktor lain bisa saja berbeda.

Kedua,Bahwa hubungan antara penumpang dan pengangkut adalah kontraktual.  Sedangkan  ada beberapa kategori ingkar janji (wanprestasi) dalam hukum kontrak , yaitu : (1) tidak melaksanakan janji ; (2) melaksanakan janji tapi terlambat; (3) melaksanakan hanya sebagian dan ; (4) melakukan yang  dilarang dalam perjanjian.  Melihat kejadian yang selalu berulang,  dapat dipastikan bahwa mereka tidak memahami telah melakukan tindakan ingkar janji.  Karena tindakan tersebut  perusahaan  wajib memberikan ganti kerugian, baik kepada penumpang maupun pihak ketiga yang dirugikan karena keterlambatan penumpang. Contoh sederhana :  apabila ada artis yang seharusnya tampil dipertunjukan. Karena terlambat, maka pertunjukan dibatalkan . Perusahaan pengangkut wajib memberikan ganti rugi kepada sang artis, penyelenggara , juga para penonton. Tentunya bukan nilai yang sedikit yang harus dipertanggungjawabkan.  Dan ini wajib diberikan secara langsung tanpa alasan apapun (strict liability). Bukan sekedar memberikan sekotak roti… !!!.

Ketiga, mungkin belum tahunya para penumpang, bahwa mereka punya hak gugat yang dilindungi hukum kontrak dan undang-undang perlindungan konsumen. Namun kadang penumpang sudah malas  jika berurusan dengan prosedur hukum yang   justru akan memperumit keadaan. Padahal  jika mereka melakukan secara bersama sama (class action) atau mewakilkan kepada lembaga YLKI misalnya (legal standing). Mekanisme legal standing  atau class action  tersebut akan lebih efektif dan memberikan posisi yang lebih seimbang bagi penumpang untuk melakukan gugatan.

Keempat, kurang pedulinya pemerintah – dalam hal ini departemen perhubungan maupun instansi terkait lainnya – dalam mengawasi operasional perusahaan pengangkutan. Kondisi ini mungkin dianggap pemerintah adalah  hubungan hukum  private antara penumpang sebagai konsumen dengan  perusahaan pengangkut sebagai produsen .  Pemerintah seharusnya mulai merubah prespektif, bahwa persoalan pengangkutan umum sudah mulai masuk  ranah hukum publik, karena melibatkan kepentingan masyarakat luas. Demi kepentingan umum pemerintah dapat melakukan tindakan yang lebih nyata dalam melindungi hak masyarakat sebagai penumpang.

Pada akhirnya harus kita lakukan sesuatu untuk merubah keadaaan yang sudah berlarut puluhan tahun ini. Perusahaan pengangkutan harus segera melakukan perbaikan layanannya . Begitu pula bagi para penumpang, untuk tidak perlu sungkan lagi melakukan tuntutan hukum demi kebaikan bersama. Atau .. kita akan terus menyanyikan syair lagu Iwan Fals yang diciptakan awal tahun 80an : “…biasanya.. kereta terlambat … dua jam cerita lama…”