Serangan China

28 Jan 2010 Mukti Fajar Artikel

Apa yang tidak diproduksi oleh China ?. Dari jarum peniti, mainan anak, peralatan electronik, otomotif , alat-alat berat hingga satelit. Bahkan mereka adalah “produsen” manusia terbanyak di dunia. Terdapat  1,4 milyar lebih rakyat di negeri China, ditambah sumber alam yang terdapat di daratan luas yang membentang dari timur sampai barat Asia. Sebuah potensi ekonomi yang  luar biasa. Amunisi yang menakutkan bangsa-bangsa lain dalam perang dagang.  Negara adidaya Amerika pun kewalahan menghadang masuknya produk China. Selain itu,  kedigdayaan perokonomian China teruji dan mampu bertahan dengan pertumbuhan 9 % pada saat negara-negara maju mengalami krisis. Pada kondisi normal pertumbuhan China melaju pada angka 11-12 %, merupakan catatan tertinggi di dunia dalam dekade terakhir.

Indonesia dan negara Asean lainnya akan berhadapan dengan China mulai tahun 2010 berdasarkan  China Asean Free Trade Agreement (CA FTA). Perdagangan bebas ini akan menghilangkan semua hambatan. Ibarat pertarungan   “full body contact”, karena secara umum tidak diperkenankan menggunakan proteksi. Dari kontrak AC FTA dapat dilihat bahwa hampir semua produk komoditi masuk kategori untuk  diperdagangkan. Dari hasil bumi, hewan ternak, hasil laut, tekstil, jasa kontruksi, pertambangan, produk setegah jadi, produk jadi  dan sebagainya. Pemberlakuan prinsip National Treatment (perlakuan yang sama) bagi produk asing dengan produk lokal dalam beberapa tahun mendatang akan memberi kesempatan bagi produk atau pedagang China berdampingan side by side . Misalnya restoran China yang terkenal dengan keberagaman menunya akan dijual disebelah warung masakan padang atau   penjual tongseng dan gudeg. Produk tekstil dan garmen China akan dijual di toko bersama dengan tekstil pekalongan dan batik Jogja. Alat rumah tangga dan elektronik China yang sekarang sudah ada, akan semakin bertambah jumlahnya, dari kualitas ecek-ecek sampai tekhnologi mutakhir, membajiri Hypermall hingga pasar tradisional. Dari pelaku usaha besar sampai UKM.  Artinya : disemua sudut pasar dan lini, China akan meyerang kita.

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran bagi Indonesia. Pada tanggal 20 Januari 2010, Komisi VI DPR RI mengundang Menteri Keuangan, Menteri Kop dan UKM, Menteri Perdagangan, Menteri BUMN dan Menteri Perindustrian untuk membahas penerapan perjanjian tersebut. Namun jawaban yang diberikan para menteri masih sebatas jawaban normatif. Belum ada konsep yang bersifat teknis dan strategis. Ironisnya, tidak semua departemen terkait mempelajari dokumen kontrak yang telah ditanda tangani sejak tahun 2003 lalu. Diakhir persidangan antara Komisi VI dengan  beberapa kementerian memberikan rekomendasi waktu 6 bulan untuk merumuskan strategi. Padahal negara Asean lain seperti Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam sudah mempersiapkan selama 6 tahun terakhir dengan berbagai jurus teknik perang  dagang melawan China.

Namun ada beberapa kemungkinan menyiasati perang dagang ini melalui strategi dan kebijakan teknis. Pertama, untuk bentuk investasi langsung, seperti masuknya perusahaan China di Indonesia, dapat diwajibkan dengan pola Joint Venture. Perusahaan asing harus berpartner dengan perusahaan lokal.  Hal ini dimungkinkan karena pada level praktis masih negosiable, dan juga  akan menguntungkan kedua belah pihak. Pihak asing akan mendapat kemudahan dalam perijinan dan  pengurusan hak atas  tanah karena diurus oleh partner lokal. Sementara perusahaan lokal dapat mengurangi atau menghilangkan persaingan, sekaligus mendapatkan keuntungan bersama. Kedua, bagi produk tertentu yang kita mampu produksi, China perlu diwajibkan untuk menggunakan kandungan lokal. Strategi ini sudah lama digunakan China. Contohnya, kita dapat amati setiap produk handphone terkenal, semuanya menggunakan battery made in China. Atau dapat pula diwajibkan perakitan produk tertentu dilakukan oleh perusahaan lokal. Kedua strategi tersebut akan memberikan peluang pertumbuhan perusahaan lokal dan membuka lapangan kerja. Ketiga, pemberian subsidi bagi produk tertentu yang strategis.  Secara normatif subsidi memang harus dihindari, tetapi pada prakteknya, banyak negara yang menggunakan kebijakan ini untuk melindungi ekonomi nasional, sebab harga produk China hampir semuannya lebih murah. Beberapa negara Eropa dan Jepang memberikan subsidi bagi hasil pertanian mereka, sebab jika tidak maka para petani akan menjadi penganggur karena harga hasil pertanian kalah bersaing. Tentunya konsekuensi kebijakan ini menuntut political will pemeritah dalam penganggaran.

Lebih dari itu semua, harus ditumbuhkan kesadaran nasionalisme untuk mencintai produk dalam negeri. Namun semangat ini akan menjadi lemah, tingkat kesejahteraan masyarakat belum tercapai dan daya beli rendah,  sehingga mau tidak mau masyarakat akan memilih produk China yang terkenal murah.  Sepertinya kita dihadapkan pada masalah yang sulit…