Saatnya Melaksanakan CSR !!

11 Oct 2009 Mukti Fajar Artikel, CSR

Belum kering air mata ini, belum sembuh luka hati, bencana datang kembali.  Musibah menguji bangsa ini tiada henti. Gempa di Tasikmalaya, Jambi dan terparah di Sumatera barat disertai longsor.  Kebakaran hutan di Riau, disusul banjir di Toli-toli Sulawesi. Ribuan nyawa direnggutnya, tempat tinggal dan ladang pencaharian musnah serta milaran rupiah hilang bersama tangis yang tak juga reda.

Walaupun semua sepakat, bahwa ini adalah ujian dari Tuhan untuk umat manusia belajar sabar dan menggambil hikmahnya, tetapi bagi  pihak yang selamat tentunya tidak bisa hanya mendoakan  dan ikut belasungkawa saja. Bantuan dalam bentuk apapun harus diupayakan untuk mereka atas nama nilai-nilai kemanusiaan.

Pemerintah selaku otoritas yang paling bertanggung jawab atas keselamatan warga negaranya, sepertinya mulai kedodoran jika harus menanggung semua beban sendirian. Masyarakat yang menjadi donatur juga tak henti menyalurkan sebagian hartanya, walau sangat terbatas.

Harapan terbesar  hanya kepada korporasi (perusahaan). Jumlah korporasi besar dan menengah sekitar 125.000 unit adalah pemilik dan pengelola hampir separuh kekayaan bangsa. Inilah saatnya mereka menunjukkan empatinya melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, atau lebih kita kenal dengan istilah  corporate social resposibility (CSR).

Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa koprorasi harus ikut peduli terhadap bencana dengan melakukan CSR .

Pertama, secara yuridis, CSR di Indonesia telah diwajibkan melalui Undang-Undang No 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan (UUPM) Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) serta secara implisit dalam  Undang-Undang No 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (UUBUMN).  Artinya tidak ada alasan bagi korporasi untuk tidak melaksanakan CSR.

Kedua, Korporasi yang melaksanakan CSR akan mendapatkan kentungan baik langsung maupun tidak langsung demi keberlanjutan bisnis mereka (corporate sustainability). Dengan memberikan bantuan yang bersifat donasi pada saat bencana datang, maupun ikut memulihkan kondisi masyarakat dengan (community development), secara langsung akan memulihkan daya beli masyarakat. Yang pada akhirnya mampu membeli produk-produk mereka kembali.  Keuntungan tidak langsung , malaksanakan  CSR adalah bagian dari promosi dan pencitraan untuk          menumbuhkan nama baik perusahaan (corporate image). Secara psikologis akan tertanam pada hati masyarakat untuk ”mencintai” korporasi  yang berbuat baik. Loyalitas masyarakat tersebut akan manjadi investasi immateriil yang tak ternilai harganya.

Ketiga, Dari sisi biaya,  seringkali CSR dianggap menjadi beban, karena menyalurkan kekayaan perusahaan  kepentingan sosial. Jadi dianggap berlawanan dengan prinsip efisiensi dalam bisnis. Tetapi tidak demikian halnya jika CSR dilakukan dengan cara yang tepat, seperti membantu korban bencana atau memberi sumbangan pada masyarakat. Melalui Peraturan Menteri Keuangan No 95/PMK.03/2006,  secara jelas ada kebijakan pengurangan pajak bagi perusahaan yang menyumbang untuk bencana alam. Begitu pula bagi korporasi yang membantu pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana.  Berdasarkan Pasal 18 UUPM akan diberikan fasilitas perpajakan (bisa pengurangan atau pembebasan),  bagi korporasi yang ikut membangun infrastruktur yang rusak atau membantu para pengusaha UKM untuk bangkit kembali.  Artinya, biaya CSR tidak menambah beban bagi korporasi.

Lebih dari itu semua, korporasi sebagai subyek hukum dianggap  sebagai bagian dari warga negara (corporate citizenship). Oleh karena itu harus ikut bertanggung jawab terhadap  kondisi bangsa yang sedang menderita karena bencana.