Kerakusan Bisnis

08 Oct 2008 Mukti Fajar Artikel

“Dunia ini cukup untuk mensejahterakan seluruh umat manusia, tetapi tidak cukup untuk melayani karakusan”, begitu kata Mahatma Gandhi. Tetapi hari ini, pelaku bisnis lebih menyukai kata-kata Grekko dalam film Wall Steet bahwa “serakah itu baik”. Manakah yang benar ? .

Yang pasti runtuhnya Imperium lembaga keuangan Lehman Brothers sebagai penyebab krisis keuangan yang parah di Amerika. Menurut para pengamat ekonomi, hal ini terjadi karena ambisi meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan resiko sebagai bagian dari bisnis itu sendiri.

Sesungguhnya ini bukan yang pertama kali. Pada tahun 1930an Amerika (dan dunia) dilanda great depression yang menyebabkan jutaan orang mengganggur dan antre makanan. Dilanjutkan dengan kasus Enron dan  Worldcom di akhir millenium . Kesemuannya disebabkan oleh kerakusan bisnis  dengan melakukan mega merger untuk monopoli, atau rekayasa harga saham yang sangat spekulatif di bursa efek. Nilai saham Enron yang sebelumnya mencapai US $ 90/ lembar, terjun bebas sampai 2 – 5 dollar / lembar. Moment ini menjadi tanda matinya mimpi orang Amerika atas kejayaan ekonomi yang dibanggakan.

Selanjutnya Presiden Bush merengek rengek pada konggres untuk dapat mengesahkan RUU bantuan likuiditas sebesar 700 milliar dollar untuk stabilisasi pasar. Tetapi karena pengaruh ekonomi Amerika yang sangat besar bagi dunia. Maka negara –nagara lain pun ikut terkena imbasnya. Uni Eropa sebagai saudara terdekat mencoba memberikan berbagai alternatif resep dan bantuan. Begitu pula di Indonesia, Menko Bidang perekonomian Sri Mulyani segera mengadakan rapat koordinasi dengan beberapa menteri lainnnya untuk menyiapkan perisai masuknya efek domino krisis keuangan amerika tersebut ke Indonesia.

Pertanyaanya ; mengapa selalu pemerintah harus ikut bertanggung jawab ?. Sementara disisi lain, pelaku bisnis selalu meneriakan prinsip liberaslisasi ekonomi, dimana pemerintah tidak perlu ikut campur mengatur pasar  ?

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan evaluasi untuk perbaikan dimasa datang. Pertama; bahwa faham pasar bebas yang meminimalisir peran pemerintah ternyata tidak mampu menciptakan stabiltas dan kesejahteraan bagi perekonomian secara umum. Invisibe hand (tangan yang tak terlihat), yang diajarkan Adam Smith yang diyakini mampu mengatur pasar dengan adil ternyata telah menjadi immposible hand (tangan yang tak mampu). Kalaupun ada, maka ”tangan-tangan” tersebut dapat dengan mudah direkayasa oleh raksasa-raksasa bisnis demi keuntungan mereka, bukan untuk menciptakan kesejahteraan umum . Kedua, sejak Aristotles, Karl Mark, Maynard Keynes hingga Joseph Stiglit (mantan direktur World Bank) telah mewanti wanti, bahwa watak bisnis punya kecenderungan untuk berlaku licik, tidak loyal, tak beretika dan hanya beroreintasi pada keuntungan semata. Mereka tidak punya kepedulian terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan ekonomi itu sendiri. ”Kalau hari ini bisa kaya raya mengapa memikirkan nasib orang lain dan generasi mendatang” itulah mottonya. Untuk itu dikuras habiskan seluruh sumber-sumber ekonomi yang ada. Dari ekpoitasi manusia, modal, hingga kekayaan alam. Ketiga dengan berbagai argument atas nama efisiensi dan efektifitas , pelaku bisnis menolak untuk diberi regulasi yang ketat oleh negara. Aturan dan birokrasi dianggap menjadi hambatan dan hanya menimbulkan biaya tambahan yang tidak perlu. Termasuk memproteksi pelaku bisnis kecil adalah ”dosa”. Mereka beranggapan ; biarlah yang kuat yang bertahan oleh seleksi alam .

Tetapi sejarah mencatat bahwa liberaisasi ekonomi telah banyak menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat umum. Dari harga yang tak terkendali, banyaknya pengangguran, upah minimum yang tidak  masuk akal dan perendahan martabat manusia.

Dari titik ini seharusnya pemerintah harus mengambil sikap tegas dengan masuk secara langsung ikut mengatur bisnis sejak awal, dan bukan hanya  sebagai tempat ”sambatan”  ketika bisnis terpuruk.

Menjadi tidak efisien dan tidak efektif,  atau menghambat laju perekonomian kadang lebih baik. Dari pada membiarkan kerakusan segelintir pihak yang berpotensi menghancurkan perekonomian secara massal. Seperti tangisan masyarakat Amerika yang kita saksikan hari ini.