Diantara Taman Surga

24 Jul 2008 Mukti Fajar Artikel

Hanya secuil tanah diantara luasnya jagad raya, dan mungkin tidak istimewa : bagi yang tidak percaya. Tapi itulah yang disabdakan Sang Utusan Rosullullah Muhammad SAW ; “ diantara mimbar dan rumahku , adalah bagian dari taman surga “.

Kurang lebih 20 meter jarak antara mimbar masjid Nabawi dengan rumah beliau. Dan sekarang telah menjadi bagian dari masjid besar nan mewah di kota Madinah. Tempat yang dahulu disebut rumah, hari ini  telah menjadi makam beliau dengan dua sahabat;  Sayidina Abu Bakar dan Umar Ibn Khatab yang disebut “Roudhoh”. Menjadi situs arti persahabatan abadi. Para penziarah yang datang ke kota itu selalu dan ingin menyempatkan diri mendatanginya.

Tidak bisa dipastikan memang , tetapi banyak yang berkisah, bahwa   sejengkal ruang itu terasa “beda” dengan sisi besar masjid Nabawi lainnya. Sejuknya udara , wanginya, dan getaran energi dari doa doa yang tak pernah berhenti di senandungkan, membuat suasana wingit menghujam hati.

Tidak bisa dipastikan memang, tetapi banyak yang bercerita , bahwa air mata meleleh dengan sendirinya dari tangisan hati, yang berharap untuk bertemu dengan tanah ini lagi …“Bagian dari taman di surga”.. nanti, dia alam lain.

Tidak bisa dipastikan memang, tetapi selalu ada yang berkabar tentang luruhnya hati dan tak kuasanya kaki ini berdiri. Luasnya batin dan kokohnya  raga, tiba tiba kusut  bersujud, kadang mulut tak kuasa berucap. Doa hanya bagian dari cucuran air mata. Entah malu pada dirinya yang berbilur najis dan dosa ; merasa kecil dan tak berarti; atau …. merasakan “sesuatu” yang tak bisa diwakili oleh kosa kata bahasa manapun. Hanya hati masing masing yang mampu memaknai. Serasa diujung  sujudnya berdiri berhadapan dengan Sang Adikuasa, berdampingan dengan Sang Utusan terakhir pembawa rahmad alam semesta.

Pada suatu kesempatan, saya telah diperjalankan olehNya untuk menapakkan kakiku yang kotor  diantara sucinya taman surga . Perlu niat yang dalam dan keikhlasan yang mutlak, sejak awal langkah, untuk dapat masuk ke ruang itu. Sebuah tanah yang diperjanjikan.

Seperti yang banyak dirisalahkan …. Rasa intrance….nggilu dan nggrantes tak terperi…. Dengan kejujuran yang tak lamis berbohong, rasa sesal mengalir bermohon ampunan … tentunya dengan susunan kata yang tak karuan. Karena terlalu banyaknya list dosa yang ingin kuajukan grasi padaNya. Tak perlu kupersoalkan. Dia Maha Tahu atas segala apa yang aku harapkan.

Namun aku menyaksikan, bahwa manusia adalah mahluk lemah, yang didalam hatinya selalu memberi ruang untuk nafsu setan.  Beberapa dari mereka berdoa tidak menghadap kiblat, tetapi ke arah tembok makam. Sambil mengusap usapkan kain surbanya, minta berkah pada Rosullullah atau berharap (surbannya) dapat menjadi jimat.

Anehnya, yang melakukan bukan dari orang Indonesia yang kuanggap masih percaya tahayul. Tapi justru orang orang yang datang dari negara-negara timur tengah, seperti orang Afganistan, Turki, Yaman dan lainnya, yang kukira lebih Islami.

Para Askar (satpam masjid) dengan garang mengayunkan rotan kecilnya sambil  berterian “Haram…Haram !!! (tentunya dengan “H”). Sebab memohon kepada Nabi Besar Muhammad SAW sekalipun, adalah perbuatan syirik, dan itu berarti neraka jahanam tempatnya; tak ada ampun bagi mereka.

Sejenak aku bermenung…. Ditempat suci,  yang menjadi “bagian dari taman surga”, setan tak pernah berhenti menistakan manusia. ….atau…. memang manusia itu sendiri adalah setan , seperti yang disuratkan “ setan itu terdiri dari jin dan manusia” adalah benar adanya.

Setan, pada jaman Para Nabi  terdahulu sebelum Muhammad digambarkan sebagai mahluk yang seram, dengan muka merah, kepala bertanduk, gigi bertaring,   berbuntut ujung tombak . Di Eropa ada legenda Count Dracula penghisap darah, yang hanya takut pada Salib.

Di Indonesia setan dimanifestasikan menjadi gendoruwo yang gede item besar, Wewe Gombel yang suka menculik anak diwaktu maghrib datang, atau yang lebih modern sepertri “suster ngesot” atau “si manis jembatan ancol”. Benarkah mythos itu semua ? .

Saya beranggapan, bahwa umat Muhammad tidak akan digoda oleh setan-setan gentanyangan yang amburadul bentuknya. Kecuali mereka yang punya rasa penakut berlebihan, sehingga apa yang mereka bayangkan muncul ter visualisasi kan oleh  imajinasinya sendiri.

Hari ini,  setan telah bermetamorforsis menjadi mahluk “halus” dalam arti harfiah. Lebih halus dari sutera Cina atau beludru Persia. Ke “halus” an setan mampu hadir disetiap kondisi situasi hati manusia.

Dalam kesuksesan, ia hadir  dalam bentuk kesombongan. Di setiap kesedihan dan keterpojokkan, setan membujuk mencari jalan pintas. Diantara gelimang harta, dia jadi minuman memabukkan hingga kita lupa. Pada perjuangan hidup, ia menjelma kelicikan dan kerakusan. Hampir disemua kursi kekuasaan ia melahirkan kemunafikan dan kekejaman.

Di puncak keimanan, berwujud klaim kebenaran dan merasa kita paling suci … dan disetiap langkah kaki ia menyelinap dalam hirupan nafas, mencari saat lengah untuk menjerumuskan dalam lubang jalanan.

Scenario Sang Maha Sutradara telah menempatkan setan menjadi aktor pendamping yang hadir disetiap scene ritus-ritus kehidupan manusia….

Pun ditempat yangmenjadi “Bagian dari taman surga”.

Menyelinap diantara doa doa……………………………