Awasi Kontrak (Bisnis) Amerika !!!

21 Nov 2006 Mukti Fajar Artikel

Menyeruaknya demonstrasi anti Amerika karena kedatangan Presiden George W Bush berlangsung hampir disetiap pojok negeri. Mahasiswa, parta politik, aliasi perempuan dan organisasi keagaaman secara serentak menyatakan penolakan atas kehadiran orang paling dibenci di dunia ini. Isu penolakan bersentral pada persoalan terorisme yang justru dilakukan Amerika terhadap negara nagara Islam seprti Irak, Afganistan dan Palestina.

Namun sesungguhnya ada isu yang lebih penting yang perlu kita amati dalam agenda pembicara SBY – Bush yaitu mengenai kontrak bisnis Amerika di Indonesia khususnya di bidang investasi pertambangan dan perdagangan.

Masuknya bisnis pertambangan Amerika di Indonesia sudah berlangsung cukup lama, setidaknya sejak Freeport Mac Moran Cooper and Gold Inc membuka lahan di Papua pada akhir 60 an dan dilanjutkan oleh Exxon, Caltex, Newmont serta di beberapa industri lain baik yang langsung atau melalui kontrak license dan franchise. Dari otomotif, mesin-mesin berat, sepatu,fashion, retail hingga fast food dan soft drink. Tetapi dari sekian banyak kantrak kerjasama baik yang Private to Private atau government to government, sejarah mencatat keuntungan yang didapat sangat tidak seimbang. Apalagi jika dinilai dengan kerusakan lingkungan yang kita tanggung.  Pertanyaannya : mengapa kita masih mengharap dengan sangat kontrak kerjasama dengan Amerika ini diteruskan ?

Pertama , kita akan mendapat keuntungan non ekonomis, yaitu perlindungan keamanan dari bodyguard dunia ini. Naifnya,… perlindungan ini bukan karena kita akan diserang oleh negara lain , tapi sekedar jaminan bahwa kita tidak akan dimusuhi oleh Amerika sendiri. Jadi semacam jatah preman yang kita bayar supaya tidak diganggu.

Kedua, agar pembatasan quota untuk barang dagangan kita yang masuk Amerika diperlonggar. Walaupun dalam perjanjian internasional di WTO  sudah ada larangan untuk membatasi masuknya dagangan dunia ketiga , namun Amerika adalah penyeleweng utama ketentuan tersebut. Jangankan bagi negara yang tidak mau didekte, Jepang yang tunduk patuh saja mendapatkan perlakukan yang tidak adil untuk eksport industri mobilnya.

Ketiga, yang diharapkan oleh Indonesia adalah efek samping dari kontrak investasi tersebut, seperti bantuan luar negeri baik yang utang maupun hibah untuk pembangunan , penjualan suku cadang dan peralatan militer, ditingkatkanya beasiswa bagi yang ingin belajar ke sana, serta  bantuan bencana alam dan obat obatan. Yang terakhir ini memang iming-iming Amerika yang laris buat ngempongin  dunia ketiga seperti Indonesia. Walaupun  harus kita waspadai , mereka gak akan memberikan “makan siang gratis” untuk siapapun alias selalu pamrih.

Kali ini kehadiran Bush secara khusus ke Kebun Raya Bogor , harus dicermati sebagai suatu kondisi yang menguntungkan, dan bukan sebaliknya khusunya dalam kontrak investasi. Walaupun penolakan yang luar biasa terus diteriakan , tetapi mengapa Bush tetap mencoba “berbaik-baik” dengan kita ? argumentasi yang bisa diajukan adalah :

Bahwa Amerika sebagai negara yang mempunyai kandungan bahan bakar alam terbesar di dunia dan memiliki kemajuan tekhnologi yang the best , toh belum mempunyai alternatif bahan bakar pengganti yang lebih murah (selain nuklir). Walaupun  selalu dibungkus isu demokrasi dan pelanggaran HAM, ekspansi militer ke Irak dan negara timur tengah lainnya selalu diikuti proyek penambangan minyak. Artinya dia tetap mengharap adanya suplai dari sumber lainnya seperti Indonesia. Jadi ini merupakan kesempatan kita untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dengan menaikan nilai profit sharing dari kontrak investasi tersebut.

Selain itu ,hari ini  Amerika mulai di jendelke oleh negara negara Uni Eropa dan khawatir dengan kebangkitan ekonomi China dan Asia. Sikap ketkutan ini, menjadi salah satu alasan mengapa Ameriaka sregep menghadiri pertemuan-pertemuan ekonomi di negara-negara  Asia . Maksudnya, kalau kita nanti telah “dijerat” dengan kontrak bisnis tersebut , maka hubungan ini lambat laun akan dialihkan menjadi semacam “aliasi politik baru” Amerika menghadapi Uni Eropa dan China. Paranoia Amerika ini bisa kita manfaatkan untuk gantian mendikte, bukan saja pada persoalan bisnis tapi juga pengurangan sikap politik standard ganda Amerika pada Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Kalau Amerika menolak, kita jaln kemesraan dengan Uni Eropa atau China

Yang jusru tidak kita kehendaki justru sikap SBY justru pura-pura tidak mau tahu atau takut membicarakan isu ketidakadilan diluar urusan bisnis. Ini justru akan menegguhkan arogansi Amerika terhadap kita.

Amerika memang terlalu kuat untuk ditantang atau diajak perang. Tapi  menunjukan kedirian dan sikap tegas akan menaikan derajad bangsa dimuka Paman Sam. Kita harus bisa katakan : we can live with or without you   – Kita bisa hidup bersama atau tanpa Amerika