Zakat Korporasi

16 Oct 2006 Mukti Fajar Artikel, CSR

Bulan Suci yang dipenuhi barokah ini nantinya akan berujung pada malam syawal yang penuh kemenangan. Dimana setiap manusia yang menjalankan puasanya dengan baik maka akan diampuni dosanya bagaikan bayi yang baru lahir ke dunia, bersih suci dan fitri. Namun masih ada perintah yang merupakan satu paket dengan syiam yaitu membayar zakat fitrah. Zakat yang menjadi kewajiban tiap muslimin tanpa kecuali,  dalam bentuk memberikan 2, 5 Kg bahan makanan pokok atau senilai Rp 12.500 /orang.

Selain itu alangkah baiknya momen ini  dimanfaatkan untuk membayar zakat kekayaan (maal) kita lainnya  yang selama satu tahun ini belum dilaksanakan. zakat maal terdiri dalam berbagai hal yaitu:  zakat pertanian, zakat emas, zakat perdagangan dan sebagainya. Kriteria harta yang perlu dizakati  ini semakin banyak seiring dengan majunya  peradaban. Tetapi untuk lebih memudahkan urusan, maka bisa kita bayarkan zakat dari setiap harta kekayaan yang kita miliki , apapun bentuknya. Seperti yang disampaikan Allah dalam Quran …..Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan harta mereka,.. (At Taubah : 103) sedangkan dalam terminology syariah , zakat adalah kewajiban atas sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu untuk diberikan pada  mustahiq.

Selain perseorangan yang berkewajiban zakat, sekarang ini sudah bergulir wacana tentang zakat korporasi. Dalam hal ini korporasi yaitu lembaga sosial maupun badan usaha/perusahaan sebagai suatu entitas hukum (subyek hukum) yang mengemban hak dan kewajiban seperti CV, PT Koperasi, Yayasan dan perkumpulan sosial lainnya. Hal ini sesungguhnya juga sudah diatur dengan jelas dalam UU Pengelolaan Zakat NO 33 tahun 1999 dalam Pasal 1 ayat 2 yaitu :  “Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan  yang dimiliki orang muslim sesuai dengan ketentuan agam untuk diberikan pada kepada yang berhak menerima”  

Jumlah harta kekayaan dari korporasi ini yang menjadi nisab pembayaran zakat adalah sebesar 85 gram emas atau setara 8,5 jutaan rupiah.  Artinya kalau sebuah korporasi memiliki kekayaan lebih dari jumlah tersebut maka wajib baginya untuk berzakat.

Cara perusahaan membayar zakat ada dua macam penghitungan pertama : kalau ia perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan (trading) maka kadar zakatnya 2,5 % yaitu (seluruh modal + keuntungan) – ( hutang + kerugian) x 2,5 % contoh sederhananya : jumlah modal 10 juta dengan keuntungan per tahun 5 juta, kewajiban membayar hutang 3 juta maka perhitungannya adalah : (10 jt + 5 Jt)- 3 Jt x 2,5 % = 300 ribu  Kedua untuk perusahaan yang bergerak dibidang produksi maka perhitungannya adalah seperti halnya zakat pertanian yaitu 10 % dari hasil bersih produksinya tanpa dihitung dengan modalnya, misalnya modal 100 jt dengan hasil bersih produksi 10 jt per tahun maka kewajiban zakatnya 10 jt x 10 % = 1 jt.

Zakat selain sebuah ritus ibadah, wujud ketaatan umat kepada tuhannya juga mempunyai maksud dan tujuan lainnya yang mempunyai manfaat sosial yang sangat luas. Pertama : zakat akan membangun tanggung jawab sosial  dan memisahkan jurang kecemburuan sosial antara si miskin dan si kaya. Kalau sekarang kita saksikan banyaknya kerusuhan sosial yang disebabkan karena perbedaan kekayaan yang dimilik antara si miskin dan si kaya yang sangat mencolok, insya allah akan hilang dengan sendirinmya kalau si miskin merasa diperhatikan oleh si kaya dengan memberikan zakatnya. Kedua dengan diberikannya hak si miskin oleh si kaya maka beratnya beban hidup karena  krisis ekonomi yang sedang melanda ini akan teringankan. Dan kalau si miskin setelah menerima zakat mempunyai daya beli maka perekonomian akan kembali hidup dan kesejahteraan akan segera tiba dihadapan kita.     

Jika benar bahwa 80 % orang Indonesia itu beragama Islam dan kekayaan yang beredar di Indonesia ini 2/3 nya dimiliki oleh korporasi baik perusahaan maupun lembaga sosial. Maka apabila korporasi ini semua membayarkan zakatnya,  akan didapat jumlah yang luar biasa besarnya. Bisa dipastikan status kemiskinan yang disandang lebih dari 40 juta manusia Indonesia itu akan hilang dengan segera.

Namun seringkali para pemilik dan pengelola  korporasi ini masih enggan membayar zakat, alibi yang mereka ajukan yaitu bahwa korporasi sudah membayar pajak sehingga sudah lunas kewajibannya membayar zakat. Ini jelas pemahaman yang keliru . perbedaan antara zakat dengan pajak beberapa diantaranya  adalah sebagai berikut:  (1) zakat adalah memberikan harta milik fakir miskin yang terdapat dalam rejeki yang kita terima sementara pajak adalah kewajiban pembayaran (utang) karena kita menggunakan fasilitas umum yang diberikan negara. (2) yang menerima zakat itu ada 8 golongan mustahiq sedangkan penerima pajak adalah negara digunakan untuk anggaran pembangunan. (3) Zakat adalah perintah Allah dan pajak adalah perintah negara (4) zakat diwajibkan hanya untuk yang beragama Islam sedangkan pajak untuk semua warga negara. (5) sanksi tidak membayar zakat adalah dosa dan akan menerima azab dari Allah sedangkan tidak membayar pajak dikenai sanksi denda dan atau penjara.

Perbedaaan diatas pada akhirnya tetap memberikan kewajiban bagi setiap muslim untuk membayar zakat sebagi ritual ibadah dan membayar pajak sebagai warga negara yang baik. Walaupun sebagaian besar muslimin telah mengetahui perbedaan di atas namun seringkali tetap tidak mau melakasanakan keduanya secara tertib karena dirasa membebani . Untuk itu perlu dibuat sebuah kententuan yang memberikan keringanan pembayar pajak yang telah membayar zakat. Misalnya jumlah pajak dihitung setelah dikurangi kewajiban zakatnya.

Akhirnya kembali pada keyakinan kita sebagai umat beragama. Bahwa perintah Allah sangatlah jelas yaitu barang siapa menunaikan zakat maka baginya hak untuk mewaris surga ( Al Mu’minun 1-10 ) dan hukuman Allah juga sangatlah keras bagi mereka yang tidak mau membayar zakat seperti sabda Rosullullah SAW :….  mereka dihari kiamat nanti akan dipanaskan dengan sebuah besi dari api neraka pada badan, dahi dan punggungnya selama 50 ribu tahun hingga diputuskan masuk surga atau neraka (HR Muslim). Akankah kita sayang pada dunia, malas membayar zakat dan bernasib sengsara di akhirat  ? …… Ini hanya sebuah pilihan untuk orang yang beriman.