Saatnya Untuk Berbagi

02 Oct 2005 Mukti Fajar Artikel

Pemerintah memang tidak bijaksana ! . Pada akhirnya keputusan untuk menaikkan BBM tetap dilakukan pada dini hari 1 Oktober 2005 lalu .

Tak sedikitpun suara terikan rakyat yang menjerit karena beban hidup yang berat didengarkan. Segala macam argumentasi publik yang dibangun untuk kontra terhadap kebijakan itu dilumpuhkan dan disingkirkan . Rakyat dipojokan dan dipaksa mengerti, bahwa itu adalah satu satunya jalan keluar untuk memberbaiki ekonomi nasional dan  jalan lainnya sudah buntu. Bagaimana tidak buntu ?, kalau paradigma yang digunakan sebagai landasan pikir adalah paradigma pasar bebas , maka jawababnya hanya : segala macam harga haruslah diserahkan pada mekanisme pasar , tak terkecuali BBM. Coba kalau pemerintah mau menggunakan paradigma lain , misalnya ekonomi kooperasi seperti ajaran Muh Hatta atau ekonomi sosialisme demokrat (sosdem) yang sekarang banyak berkembang di Eropa, pasti ada alternatif jawaban lainnya .

Kondisi saat ini mengharuskan kita  tetap mendukung para demonstran dan para pakar yang menyuarakan nilai nilai kebenaran, namun disisi lain kita harus melakukan tindakan nyata untuk menolong sesama yang menderita akibat kenaikan BBM yang akan diikuti kenaikan harga segala macam komoditi. Inilah saatnya kita untuk saling berbagi .

Saling berbagi dapat dilakukan dengan berbagai  macam cara. Pertama, berbagi materi. Yaitu dengan menyisihkan sebagian dari harta kita untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan . Kalau orang Islam cara seperti ini dilakukan melalui mekanisme zakat , infak dan shodaqoh yaitu memberikan sebagian harta kita yang sesungguhnya adalah hak orang lain.Prinsip “hak orang lain”  ini dapat pula dipahami secara universal. Misalkan  kita membuka warung atau kantor, maka tetangga sebelah kita akan ikut merasakan gangguan akibat ramainya orang yang datang ke kantor atau warung kita, belum lagi adannya kotoran atau sampah yang dibuang dan mengotori halaman tetangga kita . maka sesungguhnya tetangga kita berhak atas sebagian keuntungan yang didapat. Kedua berbagi ketentraman , yaitu dalam kondisi yang serba tak menentu karena kelangkaan BBM dan komoditas lainnya , maka sebaiknya tetap membelanjakan secara proporsional saja walaupun kita mempunyai kemampuan yang lebih. Sikap panic buying, memborong bahkan menimbun barang adalah tindakan tercela  yang dapat menimbulkan rasa tidak tentram bagi orang lain khususnya orang yang tidak mampu. Mereka akan merasa tidak kebagian hak karena tidak mempunyai harta yang lebih untuk mendapatkannya..

Ketiga  adalah berbagi rasa , yaitu dengan cara menunjukan pada orang lain  bahwa kita juga ikut menanggung penderitaan ini  dengan cara hidup sederhana dan sewajarnya, kurangi gaya hidup yang bermewah mewah . Mempertontonkan kegermelapan harta kita pada saat krisis ini akan menambah rasa nelangsa bagi orang yang tidak mampu.  Mereka sudah miskin tetapi, jangan kita miskinkan jiwanya dengan  segala kemelaratannya dipaksa menatap kita hidup  berfoya foya .

Berbagi yang keempat adalah berbagi doa dan saling silaturahmi. Doakan mereka yang miskin untuk segera mendapatkan rejeki dan doakan diri kita sendiri untuk mampu terus berbagi rejeki.Ajaklah juga  mereka untuk terus berdoa , sebab Tuhan akan mengabulkan doa orang yang teraniyaya hidupnya.  Kunjungi orang orang miskin  dan yakinkan pada mereka bahwa kesengsaraan ini bukanlah milik mereka saja tetapi dirasakan oleh semua orang . Rengkuhlah agar mereka tidak merasa sendiri menghadapi cobaan ini. Sedikit perhatian yang kita berikan akan banyak membantu kesusahannya

Momen  bulan ramadhan ini sesungguhnya dapat kita manfaatkan sebagai entri point untuk meningkatkan sikap saling berbagi . Tidak hanya untuk orang muslim saja yang mendapat perintah secara dogmatika Islam, namun juga bagi pemeluk agama lainnya agar menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan .

Percayalah … tidak ada orang yang bahagia , kalau disekelilingnya jutaan orang sengsara …..   ,.