Ini Minyak Siapa ?

26 Aug 2005 Mukti Fajar Artikel

BBM kembali mencekik rakyat !. Upaya pemerintah untuk memperbaiki cash flow APBN dengan mencabut seluruh subsidi BBM akan mengakibatkan harga minyak menjadi total mengikuti harga pasar dunia yang sekarang berkisar antara US $ 66 hingga  ( dipredediksi akan mencapai) US $ 100 / barrel. (KR tgl 11 -08- 2005) .

Angka ini akan berdampak sangat mengerikan bagi efek domino harga  kebutuhan lainnya .  Alih alih akan mengalokasikan subsidi secara langsung pada rakyat miskin hanyalah retorika politik omong kosong . Sebab,  janji penyaluran subsidi untuk sekolah murah , beras murah (raskin) dan biaya kesehatan murah yang kemarin pun tak terbukti.

Kalaupun disalurkan , maka tetap tidak menolong sama sekali , karena,  sekolahnya bisa saja  murah akan tetapi ongkos angkutan , biaya seragam dan harga buku serta  kelengkapan lainnya menjadi  tak terbeli .

Belum jauh dari ingatan kita tentang kisah kejayaan ekspor migas Indonesia pada dekade 80 an yang menghasilkan booming Petro Dollar . Itu semua karena  Indonesia adalah jamrud katulistiwa, tanahnya gemah ripah loh jinawi , kekayaan alamnya berlimpah  ,Tetapi ironisnya sekarang  , mengapa rakyatnya tak mampu menikmati BBM dengan harga yang terjangkau ? sesungguhnya minyak ini milik siapa ? dan siapa yang barhak menentukan harga minyak kita ?

Kalau memang minyak kita kurang dan terpaksa harus membeli dari luar negeri , supaya lebih adil maka harganyapun harus dihitung rerata  antara selisih harga minyak kita dan minyak tambahannya. Perhitungan sederhanannya seperti ini : Misalnnya seperti yang dikatakan  Kwik Kian Gie, kalau minyak  ini memang minyak yang berasal dari bumi Indonesia , maka biaya yang dibutuhkan untuk menyedot , mengolah dan mendistribusikan keseluruh penjuru Indonesia hanya membutuhkan dana sebesar Rp. 450 /liter untuk bensin (Kompas, 7 -02- 2005).  Katakanlah Pertamina menjual dengan harga Rp 500 / liter dan harga minyak international seharga Rp 3.000 / liter  . Kalau kebutuhan kita per hari adalah  15 liter , sedangkan hasil sumur minyak kita cuma 10 liter dan kekurangan  5 liter lainnya harus beli dari asing .Maka angka matematikanya  adalah : (10 x Rp 500) + (5 x Rp 3.000) : 15 liter  = ( Rp 5000 + Rp 15.000) : 15 liter =  Rp 1.334 / liter . Jadi bukan semua jumlah liter mengikuti harga pasar dunia !

Persoalannya mungkin karena Indonesia telah terikat dengan perjanjian internasional atau menjadi anggoata dalam organisasi internasional, Seperti, OPEC  ataupun GATT/WTO  dimana semua anggota diharuskan menyerahkan transaksi perdagangannya pada mekanisme pasar, serta dilarang melakukan subsidi pada produk domestiknya karena akan mengganggu persaingan bebas bagi produk negara lainnya. Artinya pemerintah Indonesia tidak boleh ikut campur menentukan harga minyak dipasaran dalam negeri sekalipun .  Hal itu benar adannya , tetapi tidak serta merta kita kemudian harus pasrah dan tunduk pada perjanjian internasional yang ujungnya merugikan kita sendiri . Sebab bukan tidak mungkin gejala ini adalah suatu skenario asing.

Ada gelaja yang patut kita curigai dengan naiknya harga minyak yang tak terkendali tersebut. Mungkin saja ini semacam persekongkolan asing dengan membuat Kartel yang merekayasa supply and demand BBM secara global . Alasan yang paling simple adalah bahwa mereka (negara barat)  tidak lagi mempunyai cadangan  minyak yang memadai dibanding negara di timur tengah atau negara berkembang seperti Indonesia (kecuali Amerika yang minyaknya tetap disimpan entah untuk kapan ?). Kalau harga minyak menjadi sangat tinggi dan tak terbeli , maka akan tercipta kondisi malaise global , seperti yang pernah terjadi ditahun 1930an , dimana ekonomi dunia akan lesu dan sakit . Apabila petaka itu terjadi maka seluruh harga akan drop kembali ke  titik nadir  terendah termasuk juga minyak . Dan disaat sekarat tersebut hanya negara yang mempunyai “gizi ekonomi” ( capital ) yang kuat yang akan bertahan , maka mereka akan memborong seluruh cadangan minyak untuk  menjadi penguasa ekonomi dunia .

Seandainya kecurigaan tersebut tidak terbukti , maka hal yang konkrit untuk bisa kita lakukan dalam menentukan harga minyak dalam negeri adalah membuat negosiasi dengan negara produsen minyak lainnya. Karena hukum ekonomi internasional  tidak lepas dari kemapuan diplomasi politik. Bargaining position yang baik akan sangat membantu menentukan keselarasan antara kebijakan ekonomi nasional dangan kebijakan ekonomi global sehingga ekonomi kita  tidak selalu bankrut .

Seperti halnya yang dilakukan Cina . Sebagai negara yang belum lama membuka diri untuk perdagangan bebas ,Cina termasuk negara yang rajin dalam melakukan perundingan ekonomi baik secara bilateral maupun multilateral . Usaha ini dilakukan agar Cina mampu melakukan proteksi terhadap ekonomi dalam negerinya sambil tetap terus menuju pasar bebas dunia. Terbukti sekarang sudah menjadi Naga Asia.

Inti pesan dari kesemua uraian diatas adalah ; ” jika ini adalah minyak kita sendiri, maka kitalah yang paling berhak menentukan harganya demi kesejahteraan rakyat Indonesia, bukannya bangsa lain ! ”  .Jadi  seharusnya semangat proklamsi  menjadi inspirasi bagi  pemerintah,  untuk  berani bersikap patriot membela ekonomi rakyatnya dimata dunia dengan  tidak menaikan harga BBM……….   !