Muhammadiyah Holding Company

12 Jun 2005 Mukti Fajar Artikel

Sudahkah Persyarikatan Muhammadiyah memikirkan ekonomi umatnya secara serius ? . Layak atau tidak pertanyaan ini dilontarkan pada organisasi sosial keagamaan bukanlah untuk diperdebatkan. Yang pasti di era globalisasi ekonomi ini , dimana seluruh aspek kehidupan telah didominasi oleh kegiatan ekonomi yang  berfaham kapitalisme , menghendaki seluruh element baik orang perorang , kelembagaan organisasi  maupun negara untuk menjadi pelaku pasar yang mampu bertahan dalam persaingan  bebas . Untuk itu Muhammadiyah harus tampil dalam menjawab tantangan jaman .

Muhammadiyah yang awal mula didirikan, dimaksudkan  untuk menjalankan misi sosial dan pendidikan telah dicatat oleh sejarah sebagai suatu keberhasilan yang luar biasa .Setiap kali kita membicarakan tentang Muhammadiyah , maka dibenak kita akan  terbayang tentang sekolahan , rumah sakit , madrasah dan panti panti asuhan . Namun dalam tatanan dunia yang mulai berubah , sudah menjadi keharusan bagi Muhammadiyah untuk ikut  pula merubah paradigmanya, kalau tidak ingin pada akhirnya hanya menjadi pemain pinggiran saja  .

Perubahan paradigma yang dimaksud adalah ;  Membangun ekonomi umat selain tetap menjalankan misi di bidang sosial dan pendidikan sebagai  aktivitasnya . Artinya, Muhammadiyah harus menjadi sebuah perusahaan besar (holding company) yang mempunyai banyak badan badan usaha didalamnya .

Kalau selama ini Muhammadiyah menghidupi dan mengembangkan diri dengan mengambil “keuntungan” dari penyelenggaran pendidikan dan sosial,  itu akan menjadi sebuah kekeliruan besar . Sebab, untuk menyelenggarakan pendidikan yang baik mutunya , dibutuhkan dana yang besar ,yang pada akhirnya biaya pendidikan di sekolahan Muhammadiyah akan menjadi sangat mahal – seperti sekarang ini – dan akan semakin bertambah nantinya.  Begitu pula biaya perawatan dirumah sakit dan lainnya . Sementara itu, tidak semua anggota Muhammadiyah adalah orang yang “mampu“ secara ekonomi . Sehingga untuk ikut berpartisipasi meyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah,  pun akan keberatan.

Kenapa Muhammadiyah tidak mencoba suatu yang simbiose mutualism ?.

Jika Muhammadiyah mempunyai perusahaan perusahaan yang mampu bersaing dan membuat keuntungan , dan keuntungan itu bisa digunakan untuk memberikan subsidi pada sektor pendidikannya, tentunya biaya pendidikan akan bisa ditekan .

Begitu pula sebaliknya , apabila perusahaan dan industri yang dibangun tersebut membutuhkan tenaga kerja yang terampil maka akan disuplai oleh lembaga pendidikannya , termasuk juga tenaga medis dirumah sakit.

Ada beberapa opportunity and challenge yang bisa dilihat sebagai kekuataan Muhammadiyah untuk memulai masuk dalam dunia bisnis . pertama : Jumlah anggota yang lebih dari 20 juta adalah suatu sumber daya yang tak terkira. Kalau 10 %  nya saja adalah tenaga terampil , maka Muhammadiyah telah mempunyai SDM yang lebih dari cukup . Selebihnya, apabila  dapat direkayasa dengan baik maka jutaan manusia dan lembaga yang sudah ada didalamnya,  akan menjadi pasar yang potensial . Karena itu, Muhammadiyah bisa memulai bisnisnya dari apa yang menjadi kebutuhan keseharian ummatnya .

Kedua:  Jikalau, setiap orang Muhammadiyah , mengikhlaskan sebesar seribu hingga sepuluh ribu rupiah dari hartanya untuk di infakkan atau dishodaqohkan setiap bulannya , maka besaran modal yang akan didapat cukup signifikan utnuk bisa masuk dalam bisnis level nasional . Apabila jumlahnya sudah semakin besar , maka lembaga keuangan seperti Bank Syariah atau BMT bisa pula didirikan sebagai pengatur lalu lintas keuangan . Persoalan ruginya Bank Persyarikan , diwaktu lalu harus dipahami sebagai suatu pelajaran yang  berharga untuk diambil yang baik dan ditinggalkan kekurangannya, bukanlah  menjadi hambatan atau ketakutan untuk masuk kedunia bisnis keuangan kambali .

Ketiga :. Muhammadiyah bisa ditampilkan sebagai The New Institusional Economics ,yaitu sebagai institusi ekonomi baru  yang mampu menjawab kekurangan dan ketidakmampuan dari lembaga ekonomi klasik seperti perusahaan konvensional maupun negara .

Relasi antara ummat dan persyarikatan Muhammadiyah adalah modal yang terbangun dari rasa kepercayaan dan bahkan sudah menjadi keyakinan,  adalah modal yang terbesar dalam pembangunan ekonomi umat .

Seperti dikatakan oleh  Douglas North, seorang pemenang nobel bidang ekonomi ;” …Intitusional capital may be more important determinant of economic development than financial capital, human capital,physical capital  or technological capital …” .

Namun pada akhirnya , untuk membangun institusi bisnis harus memenuhi beberapa prasyarat.  Prasyarat tersebut adalah : Bahwa Muhammadiyah harus secara tegas dan jelas dalam sikap untuk mendirikan perusahan dan masuk kedunia bisnis .  Sikap yang malu malu justru akan mempersulit penetrasi pasar dan kepercayaan publik . Selanjutnya perusahaan Muhammadiyah harus diselenggarakan dengan prinsip Good Corporate Governance seperti ; Transparansi , akuntabiltas , responsibility dan fairness.     Selebihnya perusahaan Muhammadiyah harus dibangun  berdasarkan niatan baik , studi kelayakan dan konsep yang matang, serta   management  profesional dan penuh amanah .

Bulan Juli 2005 nanti ,  organisasi tersebut akan menyelanggarakan Muktamar yang ke 45 . Dan inilah saat yang tepat untuk memulai mengagendakan  pembangunan ekonomi umat secara nyata dan terlembagakan dengan baik . Insya Allah manfaat dunia akhirat.